Friday, January 30, 2015

Perencanaan Pariwisata



Perencanaan pariwisata merupakan hal yang kompleks. Dia bukan hanya merencanakan daerah yang menjadi tujuan para wisatawan, tetapi juga merencanakan transportasi apa yang digunakan untuk menuju ke daerah tujuan pariwisata tadi. Merencanakan daerah tujuan pariwisata bukan hanya merencanakan wilayah, tetapi juga menyiapkan masyarakatnya. Kunci pengembangan pariwisata terletak pada masyarakat yang ada di daerah tujuan. Kalau di tempat itu masyarakatnya ramah kepada para wisatawan dan memberi rasa aman, maka pariwisata dengan cepat akan berkembang.  
Biasanya perencanaan pariwisata akan muncul setelah suatu daerah dengan pemandangan yang indah dikunjungi oleh wisatawan. Karena tempat itu belum dikelola, wisatawan tidak dapat menginap disitu. Kemudian ada beberapa orang yang mulai buka usaha warung yang kemudian menjadi restoran. Setelah berdiri warung kemudian masyarakat mulai membuka losmen. Bersamaan dengan berkembangnya wilayah ini, di kota terdekat mulai muncul usaha transportasi menyewakan mobil untuk menuju ke tempat ini. Para pemandu pariwisatapun mulai bermunculan. Setelah tempat ini berkembangan, kemudian pemerintah daerah mulai merencanakan tempat ini menjadi tujuan pariwisata.
Di Indonesia, perencanaan pariwisata sebenarnya ada pada Rencana Induk Pengembangan Pariwisata (RIPP) yang seharusnya menjadi pegangan bagi pemerintah daerah baik pada tingkat propinsi maupun daerah yang kemudian menjadi RIPPDA, untuk merencanakan pariwisata. Tetapi, sayang rencana ini tidak dilaksanakan dengan baik. Kesulitan ini terjadi karena berbagai macam masalah. Ada RIPPDA yang di susun oleh konsultan yang tidak mengerti apa itu perencanaan pariwisata. Sehingga, rencana yang dihasilkan tidak bermutu, apalagi jika konsultan tadi hanya copy-paste dari segala perencanaan yang sudah ada sebelumnya. Selain itu juga karena pejabat yang berwenangan tidak mengerti apa itu RIPPDA.  Sehingga buku laporan RIPPDA menjadi tumpukan dokumen saja.

Dilain pihak, penyusunan RIPPDA tidak melalui penelian yang mendalam baik dari sudut ekonomi, sosial, dan budaya masyarakatnya. Di dalam RIPPDA ini pemerintah daerah mengusulkan sembarang tempat untuk menjadi destinasi pariwisata. Akibatnya tidak semua tempat yang diusulkan menjadi daerah tujuan wisata adalah daerah yang potensial untuk menjadi destinasi wisata. Banyak tempat-tempat yang sama sekali tidak menarik para wisatawan di cantumkan dalam RIPPDA tetapi justru yang potensial untuk menjadi destinasi pariwisata tidak dicantumkan. Ini semua yang menjadi penyebab banyak RIPPDA yang tidak dapat dipakai.
Merencanakan pariwisata memerlukan penelitian yang mendalam bukan saja dari membaca keindahan pemandangan alam tetapi juga memerlukan ide-ide untuk di jual pada wisatawan. Banyak pulau-pulau kosong yang disewa oleh orang asing dan kemudian disulap menjadi tempat wisata exklusif dimana wisatawan di jemput dari bandara dan langsung dibawa ke resort ini. Sehingga keberadaan pariwisata ini tidak memberikan dampak ekonomi kepada masyarakat di dekatnya.
Rumitnya perencanaan pariwisata ini merupakan bagian yang diangkat oleh website kami untuk didiskusikan. Untuk itulah kami menyediakan menu khusus tentang perencanaan pariwisata. Kami sangat  mengharapkan perencanaan pariwisata dapat dilakukan secara menyeluruh dan dapat memberi kontribusi positif kepada ekonomi masyarakat.

No comments:

Post a Comment